PANGERAN TAK TERDUGA
Terkadang aku merasa iri melihat pasangan lain yang hanya
bertengkar karena telpon gak di angkat, chat gak di bales seharian sampe
megganggap bahwa pacarnya selingkuh. Terkadang aku juga merasa iri melihat
pasangan lain yang hanya terpisah oleh jarak yang masih bisa di atasi,
terhalang oleh rumah tetangga misalnya. Dan terkadang aku juga sempat merasa
iri melihat pasangan yang damai, saling serius,dan saling berandai-andai
memikirkan hal tentang masa depan mau nikah kapan, di mana, bulan madu kemana,
sampe punya anak berapa. Dan terlebih-lebih lagi aku tidak hanya iri,tapi baper
melihat pasangan lain yang bisa berduaan terus, jalan bareng, makan bareng,
suap-suapan dsb. seakan dunia milik mereka berdua. Sedangkan aku sepanjang hari
selalu bertengkar sama pacar gara-gara bingung gak mau berpisah. Kita
bertengkar gara-gara ingin mempertahankan cinta kita yang beda. Di sisi lain
kita tidak ingin membuat orang tua kita masing-masing kecewa karena kita masih
terus bersama. Jika kita seandainya bisa menikah kita mungkin sudah pasti tidak
di akui sebagai anak oleh orang tua kita. Bagaimanapun kita tidak pernah
menyesal sama sekali tentang perkara kisah cinta kita yang rumit. Kita di
pertemukan oleh Tuhan di kampus New Delhi India University. Dan kita sudah
kurang lebih tiga tahun menjalani hubungan cinta ini. Semenjak awal masuk
kuliah sampai hampir menjelang wisuda. Dan sekarang kita masih tetap berusaha
mempertahankan cinta tulus kita.
***
“Khumairah, mama
tidak setuju kalau kamu masih melanjutkan hubungan kamu sama Sanjay.” “tapi ma,
aku sama sanjay udah pacaran aku dah tau sifat baik dia selama 3 tahunan ini
ma, khumairah gak bisa pisah sama sanjay ma.” “pokoknya seusai kamu wisuda s-1
kamu harus balik ke Indonesia dan gak boleh ketemu sama sanjay lagi.” “tapi
ma...” “kamu itu wanita muslim, masak ya mau nikah sama pria nonmuslim. Beda
negara pula, kan ribet tar urusannya. Udah pokoknya sepulang kamu dari India
mama mau jodohin kamu sama pria pilihan mama.” “ma, gak bisa gitu donk ma, khumairah
gak bisa jauh sama sanjay, khumairah sayang sama dia. Mama gak bisa donk ambil
keputusan sendiri” “kalau kamu masih saja berhubungan dengan pria India itu,
mama gak akan menghadiri wisuda s1 kamu bulan depan,titik!”
tuut...tuutt..ttuuutt... lagi-lagi mama menutup telponnya. Dan aku pun
meneteskan air mata untuk yang kesekian kalinya karena ini bukan yang pertama
kalinya mama memperingatkanku untuk memutuskan hubunganku dengan sanjay. “BIIB
BIIB” ponselku berdering dan ternyata sanjay menelponku. “halo sanjay” “good
morning my honey, my khumairah...” “morning” “kok kamu lemes. Kamu pasti belum
sarapan. Yuk sarapan di luar” “aa..aku gak lapar sanjay hiks..kamu breakfast
duluan aja ya” aku tak bisa menyembunyikan isak tanggisku kepada sanjay. Aku
tak mampu menahannya dan air mata ini terus saja mengalir di pipiku. “what
happen khumairah? Kamu nangis? Kenapa?” sanjay selalu saja mengetahui kalau aku
sedang menangis lewat nada bicaraku. “barusan mama nelpon dan mama minta...”
belum selesai aku ngomong sanjay sudah mengerti keluhanku “mama kamu minta kita
putus kan? Hmmm...khumairah...please deh ini bukan yang pertama kalinya mama
kamu ngomong gini ke kamu. Sekarang kamu hapus air mata kamu, dan 5 menit lagi
aku jemput ya. Okay?”kata sanjay. “okay” jawabku sambil menutup telpon. Tak
lama setelah lima menit berlalu sanjay sudah ada di depan pintu kamar
apartemenku. Dan kami pergi ke kedai makanan langganan kami yang jaranya tidak
jauh dari apartemenku. Sentak aku terkejut melihat mobil lamborghini warna
merah sanjay parkir di halaman parkir apartemenku. Karna sanjay hampir tidak
pernah membawa mobil untuk pergi ke kedai “sanjay, kamu ngapain bawa mobil? Kan
kedainya deket. Jalan kaki aja bisa sanjay”tanyaku. “sayang, selesai kita
breakfast aku mau ajak kamu jalan-jalan ke Taj Mahal biar kamu gak sedih lagi”
sanjay menatapku dengan penuh kelembutan yang tersirat di wajahnya. “Taj
Mahal?beneran hari ini kamu mau ajak aku kesana? aku seneng banget sanjay...di
sana kita bisa mengungkapkan apa aja isi kegundahan hati kita.thank’s honey”
aku pun memeluk sanjay.
***
“honey, aku udah pesenin butter chicken kesukaan kamu honey, di makan donk. Jangan di liatin
aja” kata sanjay kepadaku. “Sanjay aku gak pengen makan. Bungkus aja ya.”
Kataku. Entah kenapa setiap aku mendapat telpon omelan dari mama aku selalu
sudah kenyang dan tak ingin makan lagi. “khumairah, aku gak mau kamu sakit
sayang..ayo aku suapin kamu ya.makan ya..please...” akhirnya dengan paksaan
sanjay aku pun makan. Bagiku sanjay memang satu-satunya lelaki yang bisa
membuatku merasa di sayangi, di lindungi, dan di perhatikan setiap saat. Seusai
makan kita langsung beranjak dari meja makan menuju mobil sanjay. Dan
sesampainya kita di taman Taj Mahal, aku mengungkapkan semua isi kegundahan
hatiku di tempat ini. Aku menceritakan omongan mama di telpon tadi kepada
sanjay. Dan sanjay pun langsung memelukku “jadi mama kamu ngancem gak dateng di
wisuda kamu kalau kita masih berhubungan?” .“iya sanjay..hiks..”. “
khumairah...aku rasa kita harus jaga jarak...kita bisa kan pura-pura udah putus
di depan mama kamu..?”. “ gak mau sanjay...kita udah bukan anak kecil lagi yang
masih sembunyi-sembunyi pacaran sanjay....kamu udah janji kan sama aku kalau
kita bakal mertahanin cinta kita apapun yang terjadi? “. “iya khumairah...aku
masih ingat janjiku itu. tapi kita gak bisa terus-terusan kaya gini
honey...kamu selalu berantem sama orang tua kamu. Dan aku juga berantem sama
orang tua aku. Kita gak mau terus-terusan gini kan?” “terus gimana sanjay?mama
aku bakal jodohin aku sepulang aku di Indonesia sama pria pilihan mama. Kamu
bakal diem aja?”aku pun terus meneteskan air mata. “gak khumairah, aku gak
bakal lepasin kamu. Aku gak akan rela kamu di jodohkan dengan pria manapun. Aku
akan selalu genggam tangan kamu. Kamu gak boleh pulang ke Indonesia.” Sanjay
pun menggengam tanganku erat. “dari dulu kita gak pernah pengen pisah. Kita
pengen hidup normal kaya pasangan lain. Di restui orang tua dan menikah dengan
bahagia. Tapi mau gimana lagi sanjay, kita beda agama, beda negara, bahkan
tradisi keluarga kamu harus menikah dengan wanita yang satu kasta.”. aku pun
mulai putus asa. Bayangkan saja 3 tahun berturut-turut kita selalu bertengkar
seperti ini. “aku tau solusinya khumairah..” kata sanjay. “Apa? “ tanyaku
serius pada sanjay. “ salah satu dari kita harus meninggalkan agama kita. Kamu
yang harus masuk hindu atau aku yang harus masuk islam. Dengan begini orang tua
kita pasti akan merestui kita.”jelas sanjay. “gila ya kamu. Agama bukan untuk
di permainkan. Dari dulu kita sepakat bakal menjalani agama kita masing-masing
tanpa melibatkan cinta kita. Aku gak mungkin ninggalin islam..gak gak
mungkin.”aku semakin pusing. “ kalau begitu biarkanlah aku saja yang masuk
islam.” Kata sanjay. “ sanjay...kalau kamu masuk islam bagaimana keluarga kamu?
Mereka pasti akan menentang kamu. Dan kamu tidak akan di akui sebagai anak lagi
oleh orang tua kamu.”kataku. “jika hanya itu satu-satunya cara untuk
mempersatukan kita, aku akan lakukan itu khumairah.” Sanjay benar-benar
laki-laki yang mau mengorbankan apa pun demi cinta kita. “tidak sanjay, apapun
yang terjadi kita tidak akan mengubah agama kita demi cinta.” Kataku menatap
mata sanjay. “kalau begitu kita kawin lari ke london, seperti apa yang aku
katakan ke kamu dulu khumairah, jika kedua orang tua kita tidak merestui kita
bisa tinggal berdua ke london dan kita sepakat meninggalkan orang tua kita masing-masing.”
Jelas sanjay. “sanjay, it’s not good.” Kataku “i see honey... but aku punya
usaha di sana dan kita bisa hidup dengan usaha aku di sana. Kita akan hidup
berdua saja tanpa ada halangan dari orang tua kita. Gimana? Do you agree
khumairah? “. Tanya sanjay “no...no..kita gak mungkin meninggalkan orang tua
kita, mereka sudah membesarkan kita, mereka membiayai kita sejak kecil sampai
kita bisa kuliah seperti ini.” Jelasku. “you are right khumairah.” Sanjay memelukku dengan erat. “aku gak akan
pulang ke Indonesia sanjay. Aku akan temenin kamu di sini.” Kataku sambil
menangis di bahu sanjay. “aku juga akan selalu bersamamu khumairah...kita tidak
akan meninggalkan satu sama lain. Promise?!” kata sanjay mengelus pundakku
“promise.” Isakku sambil menangis tersedu-sedu.
***
Satu bulan sudah berlalu. Dan mama papaku sungguh tidak
menghadiri acara wisuda sarjanaku. Entahlah aku sudah terlalu letih memikirkan
kisah cintaku yang bernasib malang bersama sanjay. Wisudaku memang berjalan
dengan lancar dan sangat meriah. Di saat yang lain sedang berpose bersama kedua
orang tuanya, dan kerabat memberikan bunga untuk saudaranya yang berhasil
menempuh pendidikannya itu, aku hanya bisa menyendiri di belakang kampus
memandang air mancur hadapanku. Sanjay masih sibuk dengan teman-temannya dan
kedua orang tuanya. Dan tak mungkin aku muncul di hadapan mereka. Yang ada
situasi akan menjadi ribut karnaku. “khumairah...ternyata kamu di sini...aku
nyariin kamu dari tadi.” Suara mengejutkan tiba-tiba mengagetkanku dalam lamunanku.
“nih bunga untuk kamu. Selamat ya ra, kamu lulus dengan predikat cumlaude, wow
sebagai sesama mahasiswa dari Indonesia aku ikut seneng donk!” aku pun menerima
bunga pemberian dari Rehan sahabat aku sejak SMA sampai akhirnya sekampus di
New Delhi India University. “kamu sendiri aja ra? Orang tua kamu kenapa kok gak
dateng?” “ya...gitu deh mereka gak mau dateng kalau aku masih berhubungan sama
Sanjay. Kamu tau sendiri kan Rehan gimana kerasnya ortu aku? Orang tua kamu
mana han?” . “ itu lagi beli minum. kamu yang sabar ya ra...kamu udah berkorban
banyak untuk hubungan kamu dengan Sanjay, tapi apakah harus kaya gini terus?
Jujur ya khumairah, aku gak tega liat kalian berdua seperti ini terus. Sudahlah
gak baik kalau menjalin hubungan dengan pria yang tidak seiman. Dianya juga gak
bisa masuk islam kan?”. “aku yang gak mau dia masuk islam, keluarga dia pasti
akan menentang.” “well, iya juga sih... ra..gimanapun juga perjuangin ya cinta
kamu, aku salut sama kamu. aku kesana dulu ya ra.” “okay”. Di saat semua orang
menentang hubunganku dengan sanjay, hanya Rehan satu-satunya orang yang
mendukung kita. Aku melihat sepatu merah milik sanjay dari kejauhan. Dan
sepertinya itu sanjay, akupun langsung memanggilnya. “ sanjay....!!!”
“baby...!!!” sanjay langsung lari ke arahku dan tiba-tiba memelukku kemudian
aku di gendongnya layaknya film india yang gak kalah romantisnya. “yeeeee....my
baby gets cumlaude. I am so happy. How about you?” sorak sanjay dengan
memutar-mutarkanku saat di gendong. “sanjay.....turunin gak? I am shy sanjay...
ayo turunin..please...tar ada orang tua kamu gimana?” kataku memohon. “okay
khumairah..” akhirnya sanjay menurunkanku. kalau sudah begini rasanya tak ingin
aku berpisah sedetikpun darinya. “i love you khumairah” ucap sanjay dengan
senyuman lebarnya. “i love you too sanjay” balasku. “whenever, wherever and
forever...yeah..” sorak kami berdua dengan tos tangan kita. “sanjay...capek
nih... anterin aku pulang yuk....”aku meminta sanjay untuk mengantarku pulang
ke apartemenku. “okay, come on sayang” sanjay pun akhirnya mengantarku.
***
“sanjay, kamu gak mampir ke apartemenku minum teh dulu
atau air putihlah.” Kataku sambil mengajak sanjay minum teh di apartementku.
“baiklah” jawab sanjay. Seketika itu aku membuka pintu kamar apartemenku,
betapa kagetnya diriku saat melihat pakaian dan koperku berantakan di atas
kasur. Dan aku melihat mama memasukkan seluruh pakaianku ke dalam koper.
“Mama....mama kapan datengnya?” tanyaku terkejut melihat mama. “salam tante”
sapa sanjay kepada mama. Ibu masih memasang muka acuh tak acuhnya kepada
sanjay. “khumairah.. ayo cepat kemasi barang-barang kamu yang laen. Hari ini
kamu harus pulang ke Indonesia. Mama sudah memesan tiket.” Kata mama dengan
nada marah. “tapi, kenapa harus sekarang ma?” tanyaku heran. “ karna mama gak
mau kamu masih di sini dan berhubungan dengan sanjay.” Mama menunjukku tengan
jari telunjuknya dan melirik sinis kepada sanjay. “tante tolong jangan
buru-buru memaksa khumairah untuk pulang ke Indonesia tante.” Pinta sanjay.
“diam kau sanjay. Awas kamu kalau masih saja mendekati anak saya.” Ancam mama.
“ma.... jangan pisahkan kami ma... khumairah mohon ma..please..” kataku memohon
dan tak kuasa menahan tangis. “papa... bawa khumairah masuk ke dalam mobil
cepat.” Teriak mama kepada papa yang baru saja datang di hadapan pintu
apartemenku. “om...jangan om.... sanjay mohon jangan bawa khumairah pergi...”
pinta sanjay sambil berlutut mencium kaki papa. “tidak sanjay...om tak kan
biarkan cinta kalian bersatu....sekarang pergi tinggalkan anak saya!!!” teriak
papa sambil menendang wajah sanjay yang tengah berlutut mencium kaki papa.
“sanjay.....!!!!” teriakku kaget melihat kepala sanjay terluka. “papa sudah
keterlaluan... apa salahnya kalau kita saling mencintai pa...bukankah cinta tak
memandang tentang perbedaan negara dan agama?”. Kataku tak bisa menahan emosi.
“om...saya benar-benar mencintai khumairah om...saya bersedia masuk islam om
demi menikahinya om..” kata sanjay berusaha bangun. “enak saja, kamu pikir
segampang itu saya merestui hubungan kalian.tidak...om tidak setuju..ayo
khumairah cepat ke parkiran dan masuk mobil.” Kata papa. “tidak pa....” kataku
membantah. “pa...ngapain buang-buang waktu, cepat seret saja khumairah agar mau
masuk mobil di parkiran. Pesawat akan berangkat 30 menit lagi.” Kata mama
kepada papa. Papa kali ini benar-benar tega memisahkan genggaman tangan kami
kan menyeretku untuk masuk ke dalam mobil. “khumairah....don’t leave me
khumairah... i really love you..” teriak sanjay yang masih menggenggam tangan
kecilku. “sanjay...bawa aku pergi sanjay...aku gak mau pulang ke indonesia.”
Teriakku kepada sanjay. Tak lama kemudian orang tua sanjay datang untuk membawa
pergi sanjay. “lepaskan tangan gadis itu biarkan dia pergi, bagaimanapun juga
kami sebagai orang tua kamu dan mereka orang tua khumairah tak akan merestui
kalian.” Teriak ayahnya sanjay sambil memisahkan genggaman tangan kami. Kini
genggaman tangan kami sudah terpisah. Dan kami berdua hanya bisa berteriak
menahan amarah bara cinta kami. “sanjay.....!!!!” aku berteriak ketika sudah
berada di dalam mobil. “ i will always love you khumairah..!!!” teriak sanjay.
Dan akhirnya kami melambaikan tangan. Aku rasa kisah cinta kita sudah berakhir.
Oh, tidak. Sampai di sinikah cerita cinta kita tuhan? Mengapa engkau pisahkan
kami tuhan? kalau sekarang kita berpisah mengapa dulu engkau pertemukan kami
tuhan? dalam hatiku aku terus menyalahkan Tuhan dan tak berhenti menangis.
***
Tiga bulan berlalu aku hanya bisa memandang foto sanjay
di ponselku. Aku selalu memikirkannya. Aku seakan-akan kehilangan arah. Aku tak
tau bagaimana caranya hidup. Aku tak tau bagaimana caranya melanjutkan hidupku
yang tragis ini. aku selalu menesteskan air mata setiap harinya. Entah berapa
banyaknya air mataku ini jatuh berlinangan di pipiku. Aku benar-benar susah
melupakannya. Tak terasa pertunanganku tinggal menghitung hari. Aku tak tahu
mama akan menjodohkanku dengan siapa. Sungguh aku tak peduli dengan semua ini.
rasanya aku seperti menunggu mati mau
menjemputku saja. Oh tuhan, aku pasrah jika memang sanjay bukan jodohku. Tapi
jagalah dia, berikanlah dia wanita yang lebih baik dariku. “khumairah
sayang...” tiba-tiba mama sudah berada si sampingku. “sampai kapan kamu terus
larut dalam kesedihan seperti ini? apapun yang kami lakukan hanya demi kebaikan
kamu sayang.” Kata mama sambil memelukku. Aku hanya terdiam. “sebenarnya mama
telah berbohong sama kamu mengenai perjodohan itu. mama ngomong gitu agar kamu
berhenti behubungan dengan sanjay.”kata mama. “sudahlah ma.” Kataku. Sebenarnya
aku tak habis pikir kenapa mama setega itu telah membohongiku. Tapi entah
apapun yang terjadi aku sudah tak peduli lagi. “kamu tau, hari ini ada yang
datang untuk melamar kamu. Kamu pasti nggak akan nyangka.” Kata mama sembari
memegang tanganku. “khumairah gak peduli sama hidup khumairah ma.” Kataku
lirih. “ayo ikut mama keruang tamu. Calon kamu itu lulusan univesitas di India.
Udah mapan, tampan, sopan dan seiman pula ra. Mama yakin kamu pasti cocok.”
Kata mama tersenyum sambil menghiburku. Aku pun mengikuti mama ke ruang tamu.
Betapa terkejutnya diriku melihat lelaki yang akan melamarku ternyata sahabatku
sendiri ketika di India. “re...rehan....kamu?!” aku masih bertanya-tanya dalam
hati. Kenapa rehan bisa melamarku? sedangkan aku adalah sahabatnya sendiri.
“iya khumairah...aku dan keluargaku kesini untuk ngelamar kamu.” Kata rehan
dengan wajah yang polos seperti tanpa dosa di hadapanku.
“om...tante...ma...pa...khumairah pengen ngomong sesuatu sama rehan, boleh kami
keluar sebentar?” tanpa basa-basi panjang aku pun langsung menarik tangannya
menuju teras belakang rumah. “apa-apaan sih kamu ini? kemaren kamu bilang kamu
dukung hubungan aku sama Sanjay, sekarang kamu malah mau hancurin hubungan kita
dengan cara kamu ingin ngelamar aku?please tell me...!!!” teriakku dengan nada
emosi. “khumairah tenang...tenang...aku mau jelasin...” kata rehan “yaudah
jelasin...”bentakku. “sanjay menyuruhku untuk melamar kamu, Dia minta tolong ke
aku agar kamu bisa aku jagain, dia gak mau kamu jatuh ke tangan cowok lain. Dia
takut kamu di kecewain dan di sakitin cowok lain. Dia percaya sama aku, karna
aku adalah sahabat kamu sejak kecil, dan dia percaya kalau aku gak akan
nyakitin kamu.” Jelas Rehan. “jadi... intinya sanjay dah nyerah gitu aja wat
ngedapetin aku dengan nyerahin aku ke kamu. Oh my god!” aku meneteskan air mata
untuk kesekian kalinya. “BIIP...BIIIP...BIIPP....BIIP” tiba-tiba ponsel Rehan
berdering. Rehan pun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Dan terlihat
di layar ponselnya bahwa yang menelpon adalah Sanjay via skype. Aku pun tanpa
pikir panjang langsung merebut ponsel itu dari Rehan dan segera mengangkatnya.
“sanjay....sanjay.....what did u do to me?”. “Khumairah... ini yang terbaik
untuk kita... please terimalah Rehan sebagai pendamping hidupmu. Aku janji
Rehan tidak akan menyakitimu ”. “but why Sanjay...? why? Bukankah kita sudah
berjanji untuk memperjuangkan cinta kita
apapun yang terjadi?” tanyaku. “khumairah...dari awal kita sudah berbeda...
keluargamu dan keluargaku juga berbeda. Mau sampai kapan kita memperjuangkan
cinta yang sia-sia ini? kita memang saling mencintai tapi kita tidak bisa
bersatu. Dengar, aku memilih Rehan, karna dia adalah sahabat baik kita. Dan
kalau kamu nikah sama dia, kita pasti bakal sering ketemu. Iya kan? Ibuku
minggu depan akan menjodohkanku dengan perempuan punjabi. Kita satu ras dan
satu iman. Tapi aku sungguh tidak mencintainya, aku melakukan ini karna
keluargaku. Dalam hatiku cuma kamu yang aku cinta Khumairah. Sekali lagi, kamu
sayang kan sama keluargamu? Kalau begitu menikahlah dengan Rehan untuk keluargamu.
Meski tidak saling memiliki, cinta kita akan tetap bersatu bukan? Jangan
mnangis honey....sudah hapus air matamu. Aku yakin ini yang terbaik untuk kita.”
Jelas Sanjay panjang lebar. “iya Sanjay, kamu memang benar. Kita memang harus
mengutamakan keluarga kita daripada apapun. Karna kita sayang keluarga kita.
It’s okay kita jalanin hidup kita masing-masing tapi kita masih bisa ketemu
kan?” tanyaku pada Sanjay dengan tersenyum kecil. “why not honey? Musim gugur
bulan depan ajak Rehan liburan ke India ya..kita bertiga akan main bareng di
Taman Taj Mahal. Okay?” kata Sanjay dengan senyum manisnya. “okay Sanjay..see
you.” Kataku. “see you Rehan, khumairah.” Jawab Sanjay. Dan Rehanpun menutup
panggilan skype tersebut. “kamu sudah tau kan apa alasannya Sanjay menyuruhku
untuk melamarmu?” tanya Rehan dengan memegang tangaku. “iya rehan, agar suatu
saat nanti kita bisa bertemu, aku, kamu, dan Sanjay.” Jawabku tersenyum kecil. “khumairah,
se..sebenarnya...”.kata Rehan terbata-bata. “ya...kenapa?” tanyaku. “Rehan...Khumairah....ayo
nak sini....”suara mama tiba-tiba memotong pembicaraan kami. Aku dan Rehan
segera kembali ke ruang tamu. “bagaimana nak Khumairah? Kamu mau menerima
Rehan?” tanya papa Rehan. “i...iya om.” Jawabku. “kalau begitu Rehan,ayo
pasangkan cincin ke jarinya.”kata mama Rehan memerintah. Rehan pun membuka
kotak cincin dari saku jasnya. Dan di dalam kotak cincin tersebut ada sepucuk
kertas yang bertuliskan ‘bolehkah aku menjadi pangeranmu?’ “khumairah, sebenarnya aku mencintaimu sejak
kita masih kecil. Tapi aku hanya bisa mengungkapkannya sekarang. Karna kamu
selalu dekat dengan cowok lain. Sebenarnya aku sudah ingin melamarmu selesai
wisuda SMA kita, tapi gak jadi karna aku tau kamu mencintai Sanjay waktu itu.
dan ketika kamu kuliah di India, aku mengikutimu untuk kuliah di India juga
agar aku bisa memantau dan menjagamu.
Aku sengaja diam selama ini. karna aku gak mau ngerusak kebahagiaan kamu
sama Sanjay. Tapi semenjak Sanjay menyerahkanmu padaku. Aku berani menyatakan
perasaanku selama ini yang terpendam lama. Aku janji aku akan jagain kamu. Aku
akan mencintaimu apa adanya. Meski kamu tidak mencintaiku.” Kata sanjay dengan
berlutut di hadapanku. Serasa seperti film korea yang romantis dia menyatakan
cintanya di hadapan dua keluarga. “bolehkan aku menjadi pangeranmu?” tanya
Rehan dengan menitikkan air mata harunya. Aku pun juga terharu karna ini
sungguh kejadian yang tak di sangka-sangka. Ternyata selama ini Rehan yang
sudah aku anggap seperti sahabatku sendiri sejak kecil ternyata sudah terlalu
lama memendam perasaannya untukku, dia sudah banyak berkorban, membahagiakanku,
dan menjagaku tanpa aku sadari selama ini. Ya Tuhan, kenapa selama ini aku tak
bisa melihat cintanya yang sebesar itu kepadaku? “Rehan, aku tahu aku tak bisa mencintaimu
seperti aku mencintai Sanjay, tapi aku akan menghargai setiap cinta yang kau
berikan kepadaku dengan menerimamu sebagai pangeran hidupku.” Jawabku dengan
menitikkan air mata. Rehan pun menyematkan cincin di jari manisku. Rehan
memelukku dan selanjutnya kedua keluarga memeluk kami. “kami senang khumairah,
kami senang akhirnya kau mau menerima Rehan sebagai pangeranmu. Dialah pangeran
yang sesungguhnya kau cari-cari selama ini, dia pangeran yang tak terduga dalam
hidupmu ra.” Kata mama memelukku. Ya, mungkin mamaku benar Rehanlah pangeran
yang aku cari-cari selama ini. dialah pangeranku yang sesungguhnya yang selalu
menjagaku, menemaniku dan melindungiku sejak aku kecil sampai sekarang. Meski
aku tak begitu mencintainya aku bersyukur kepada Tuhan yang telah memberiku
pangeran tak terduga ini. aku akan mencoba mencintainya sedikit demi sedikit
untuk menghargai pangeranku yang sesungguhnya.
-THE
END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar