Kamis, 14 Januari 2021

 

Public Health or Economy? The COVID-19 Dilemma

                                                                                                                             by : Chilyatus Sariroh

In an article titled “Public Health or Economy? The COVID-19 Dilemma”. In this article, it can be recommended by several things that can develop during this pandemic. First, the value of statistical life approach can be used to inform policymaking in the current outbreak. Moreover, since we now know that COVID-19 predominantly affects the mortality of the elderly and individuals with pre-existing health conditions, an age-adjusted value of statistical life or health-adjusted value of statistical life, both of which reduces the value of statistical life by taking into account remaining life expectancy and health status respectively, ought to be used. Second, activities which are valuable but underpriced ought to be included in the calculation of costs and benefits. Most societies calculate the economic cost of lockdowns in terms of lost GDP and employment. However, a cost-benefit analysis should include not only those activities with existing market prices but also those which are underpriced yet valuable. For instance, they should include the value of recreation and leisure, household production, and potential marital and family conflict. And third, a wider range of policy options should be considered for comparison. For example, given that elderly residents are by far the most vulnerable to COVID-19, mobility restrictions could be targeted at them while allowing other segments of the economy to reopen (Quah, et al:2020). 

The author argued that the tradeoff between dead civilians during the pandemic and lost livelihoods is often seen as another all choice between complete lockdown and zero restrictions. A balance can be gripped (Quah, et al:2020) In contrast, I do not believe that economy and health can be both manage the situation. Someone must sacrifice one of them to balance the two. When a choice is made, there are certain consequences.

Although the community has now been threatened between losing their lives or losing their livelihoods but more importantly is the economy. if people are healthy but their economy is threatened then they will not be able to eat and live normally and will disturb their health and cause hunger and death. it was also very bad. So, in my opinion, what the government is currently doing is not our government prioritizing the economy over health. But more precisely our government prioritizes political ideology before rational planning, and the results will be more applicable and applicable. examples here are European countries trade a lot with each other. So, the UK and Germany are important markets for each other. Recovery from the lockdown levels in one country will have a positive impact on the other. they have now emerged from the economy rapidly with health facilities being improved and public health much better handled. The conclusion is we have to take the positive action from another country that lead us to make our economy steady and our health can heal as soon as possible.

 

 

ANAK BURUH GENDONG

                                                                                    Penulis : Chilyatus Sariroh

Sungguh beruntung sekali menjadi anak pintar.  Di mana-mana selalu dikelilingi banyak teman. Ada yang bertanya ini ada yang bertanya itu. Andy, si anak pintar itu sungguh membuat semua orang kagum padanya. Dia selalu mempunyai semua jawaban atas soal-soal pelajaran amupun pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan oleh teman-temannya. Bahkan ketika bu guru bertanya, Andy selalu bisa menjawabnya. Tak heran bahwa Andy menduduki peringkat pertama di kelas. Jauh sekali perbedaannya dengan diriku yang hanya memiliki nilai pas-pas ketika ujian kemarin. Oleh sebab itu aku merasa minder ketika dekat dengan Andy.

Pada saat di kantin, Andy duduk di bangku sebelahku. Akupun menjadi merasa minder. Belum apa-apa para penggemarnya sudah nyinyir duluan melihat Andy duduk sebangku denganku.Aku ingat kata bu Sandra yang menyuruhku menanyakan tentang pelajaran kepada Andy, bagaimana cara ia belajar sehingga nilainya selalu bagus. Aku pun memberanikan diri. “Hai Andy, denger-denger disemester ini kamu mendapat peringkat pertama lagi ya?” tanyaku. “Iya Risa. Bagaimana dengan kamu?” jawab Andy dengan melontarkan pertanyaan balik kepadaku. “Semerter ini.. ya gitu deh, nilaiku banyak yang down. Ya maklum aku emang gak sepintar kamu. belajar apa gak nilainya tetap rendah. Kamu belajar tambahan atau les dimana sih?” jawabku sambil menanyainya langsung perihal pertanyaan yang ingin ku tanyakan sedari tadi. “Aku belajar tambahan dimana dimana!” jawabnya. “Hah? Di mana-mana? Oh pantes kamu pasti sering manggil guru privat untuk ngelesin kamu ya.” Tannyaku. Aku sama sekali berfikir tidak heran sama Andy. Pantas saja dia mendapat peringkat di kelasnya. Karena ia lesnya di mana-mana. Aku lihat Andy juga tidak pernah bermain dengan teman-temannya. Mungkin saja karena ia sibuk belajar tambahan atau les. Andy pun hanya tersenyum padaku. “Boleh gak aku ikut les sama kamu?” tanyaku pada Andy karena aku juga ingin pintar seperti dia. “Kalau pelajaran tambahan aku setiap hari mendapatkannya Ris, tapi kalau les mana mungkin aku bisa les. Ibuku saja hanya seorang buruh gendong. Dan ayahku hanya seorang penyemir sepatu.” Jawab Andy. Aku tercengang mendengar perkataan Andy bahwa ia hanyalah seorang anak buruh gendong dan penyemir sepatu. “Lagipula biaya les kan mahal. Aku juga belajar dari Ayah dan Ibu, meski sudah tua tapi mereka tetap semangat bekerja. Mereka bahkan sempat mengikuti ujian paket C untuk melamar pekerjaan lain yang lebih baik.Aku bangga sama orang tuaku. Dari situlah aku belajar agak tidak malu ketika bertanya tentang pelajaran kepada guru atau bahkan kepada semua orang. Orang tuaku saja tidak malu bekerja meski cuma buruh dan penyemir sepatu. Harusnya aku begitu.” Jelas Andy.

Aku merasa speechless tidak bisa berkata apa-apa mendengar cerita Andy tentang keluarganya. Ternyata selama ini diriku salah paham mengira dia sudah les di tempat les mahal. Ternyata tidak sama sekali. Dan kini aku baru mengerti bahwa pelajaran tambahan apapun dapat ditemukan di mana saja. Tidak hanya dari sekolah tapi dari manapun, orang terdekat kita seperti orang tua kita, teman kita dan masyarakat lainnya. “kalau kamu mau kamu bisa main ke rumahku kita belajar bareng” kata Andy. “Boleh An, nanti sepulang sekolah ya aku main ke rumah kamu sekalian belajar bareng”

-break-

Ku lihat rumah Andy begitu sempit ayahnya mondar mandir membawa peralatan semir sepatu. Dan ibunya membereskan peralatan buruh gendongnya. Aku melihat sekeliling rumah Andy dan membuatku terenyuh. Dengan keadaan seperti dia masih bisa belajar dan mendapatkan peringkat di sekolah. Sungguh sangat mengagumkan.”Eh Risa, kamu sudah datang. sini silahkan masuk duduk sini. Bentar ya aku bantu ibuku dulu ke gang sebelah. Habis ini kita belajar”.kata Andy. Apa aku tidak salah dengar. Andy mau membantu ibunya untuk menjadi buruh gendong. Ya buruh gendong adalah pembawa barang bawaan di pasar dengan upah yang begitu pas-pasan. “Tunggu Andy, aku mau ikut. Boleh?” pintaku. “Tapi nanti kamu kotor semua, jalanan pasar di sebelah banyak debunya.”kata Andy. “Tidak apa-apa” jawabku. Aku pun mengikuti Andy dan ibunya berjalan ke pasar dekat rumahnya. Dan aku duduk di bawah pohon. Melihat Andy dan ibunya susah payah bekerja untuk makan sehari-hari dan untuk biaya sekolah Andy dan adiknya. Sungguh beruntung sekali nasibku mempunyai keluarga yang bekecukupan tanpa ada kendala. Namun mengapa dengan keadaanku yang serba kecukupan ini membuatku malas belajar? Sedangkan Andy dengan keadaan seperti itu dia bisa menjadi lebih dewasa bijaksana dan mampu mengembah amanah di sekolahnya mempertahankan peringkat yang ia peroleh. Aku pernah mendengar Andy hampir saja putus sekolah karna biaya SPPnya menunggak. Tapi syukurlah ia mendapat beasiswa sehingga ia tak jadi putus sekolah. Sungguh semiris itu hidupnya. “Huft, akhirnya selesai juga. Yuk balik kerumahku. Kita bahas pelajaran disekolah tadi” kata Andy. “kamu sama sekali gak capek And? Habis membantu ibumu bekerja terus masih mau lanjut belajar?” tanyaku. “Risa, kalau kita melakukan pekerjaan apapun dengan ikhlas kita pasti tidak akan merasa lelah.” Jawab Andy dengan bijak. Aku pun kembali ke rumah Andy dan belajar bersama membahas pelajaran di sekolah. Ia sangat tekun dan sangat rajin mencatat apa yang di sampaikan oleh guru di sekolah. Aku pun sangat malu karena aku jarang sekali mencatat apa yang di sampaikan guru di sekolah. Kini aku merasa termotivasi dengan kegigihan dan kebijakan Andy dalam belajar. Sungguh tak disangka anak serajin sepintar dan sebijak Andy memiliki kehidupan seperti ini yang serba kekurangan. Sungguh dari pelajaran ini semua, aku dapat mengambil hikmahnya bahwa kita harus bijaksana dalam mengahdapai segala hal di dalam hidup kita. Tak peduli apapun keadaan kita. Dimana pun kita berada kita harus mengambil suatu kebijakan dalam hidup kita. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Terus semangat pantang menyerah. Karena hanya kebijakan dan keikhlasanlah yang mampu membuat diri kita besar. Bukan besar secara fisik tapi besar hati nuraninya.  Andy secara tidak langsung sudah menyadarkanku akan banyak hal.  Bahwa hal yang terpenting adalah menerima dan ikhlas terhadap sesuatu yang ada pada diri kita. Mensyukuri nikmat tuhan serta mempertahankan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Seseorang juga tidak bisa di lihat dari luarnya saja. Kita tidak boleh menyimpulkan sesuatu yang belum pasti kita ketahui. Maka dari itu kita wajib berbaik sangka pada semua orang dan membuang prasangka buruk kepada orang sekitar kita.

 

UNTUK APA MERINDU

                                                                                                    Penulis : Chilyatus Sariroh

Cerpen tema rindu

Abstrak : Cinta dan Rendy adalah pasangan LDR yang merencanakan untuk menikah setelah lima tahun berpacaran. Segalanya nampak tenang dan baik-baik saja. Membuat semua orang merasa iri melihat kesetiaan cinta mereka. Seakan tidak ada celah untuk orang lain masuk dalam hubungan mereka. Jarak antara Melbourne dan Surabaya tidak menjadi masalah untuk mereka. Namun kesibukan Rendy untuk mengurus pekerjaannya menjadikan malapetaka. Cinta tiba-tiba tidak mau meneruskan rencana pernikahannya karna mengira Rendy lebih mementingkan pekerjaan daripada hubungannya . Rendy berusaha menyelamatkan hubungannya dan membujuk Cinta untuk bersabar menantikan kedatangannya. Sedangkan Cinta tak sanggup lagi melanjutkan hubungan tanpa kepastian kapan pernikahan itu akan tiba. Keduanya memiliki ego yang kuat seperti tembok susah di robohkan. Apakah Cinta dan Rendy akan benar-benar berpisah? Atau mempertahankan rasa cinta yang ada dan memilih bertahan?

 

Namaku Cinta, tapi apakah aku masih pantas untuk dicintai? Apakah cinta ini layak untuk dipertahankan? Situasi ini seperti berada di antara jurang dan sekumpulan binatang buas. Maju akan di terkam oleh binatang buas, dan mundurpun akan terjatuh ke dalam jurang. Mempunyai harapan tapi tak tau arah dari harapan itu kemana. Mempunyai keinginan tapi tak tau bagaimana cara mewujudkannnya. Mempunyai masalah tapi tak tau bagaimana solusinya. Begitulah kisah cinta yang terjadi antara aku dan Rendy. Lima tahun sudah kita menjalin hubungan ini, tapi entah kami merasa hubungan ini tak ada ujungnya. Tak ada endingnya harus bertahan atau berpisah? Ibarat berenang di lautan tapi tak menemukan daratan untuk menepi. Selama ini restu orang tualah yang membuat kami bertahan. Namun apakah restu saja cukup tanpa kepastian dari sebuah hubungan? Aku merasa letih dan sesekali mengutuk diriku. Sesial inikah kisah cintaku? Seburuk inikah jalan kisah cintaku?  Rendy... kamu kapan sih pulang ke Indo? Apa kamu gak kangen aku? Kamu gak pengen nikahin aku? Apa kamu pengen aku di tikung orang? Mau sampai kapan kita seperti ini? Ketemu aja aku udah seneng. Kamu gapapa gak nikahin aku yang penting kita bisa ketemu. Tapi bagaimana caranya, ketemu aja susah apalagi untuk menikah. Pikiranku pun selalu kemana-mana. Selalu banyak pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

“ddrrttt... ddrrtttt” ponsel yang aku pegang bergetar dan itu adalah videocall dari Rendy. Akupun mengangkatnya dan berusaha tidak memikirkan aneh-aneh tentang Rendy. Selalu positive thinking dengan tetap ceria di hadapannya. Hampir setiap hari seperti itu.

 “Halo Cintaku.. sayangku..lagi apa?”

“Halo Rendyku..sayangku.. lagi gak ngapa-ngapain nih. Baru aja nganterin mama dari minimarket. Kamu lagi apa sayang?”

“Ini lagi break kerja sih, makanya aku sempetin buat videocall kamu. Lumayan 2 jam nih breaknya soalnya meeting di pending”

“Oh...kamu dah makan belum?”

“Udah sayang.. oh iya aku mau cerita nih sayang. Aku seneng banget hari ini. Kamu tau gak kenapa?”

“Kenapa?”

“Aku habis menangin proyek baru sayang yang kemaren aku ceritain itu. Kamu tahu kan kemaren aku sempet pesimis takut kalah soalnya saingannya tuh dari perusahaan Canada yang emang udah terkenal prestige gitu. Ya gak nyangka aja sih sayang. Aku bisa menangin proyek sebesar ini.”

“Waw. That’s a great news sayang. Padahal kan kamu baru aja dipindahin ke Melbourne kan sayang. Kamu hebat sayang. Terus dengan proyek kamu yang sekarang kamu akan stay long time there? Yang di Jakarta gimana? Udah lepas sama perusahaan di Jakarta? Kamu ga kesana lagi?”

“Ya.. gimana lagi yang... proyek aku di Melbourne ini jauh lebih menguntungkan daripada di Jakarta. Jadi ya I prefer to stay here and leave Jakarta. Dengan karir aku yang sekarang ini aku pengen ngebahagiain kamu sayang. Apapun yang kamu minta pasti aku turutin. Kamu mau aku beliin apa? Tas? Handphone baru? Atau transfer aja?”

“Aku cuma mau kamu ada disini”

“Sayang.. kan kamu tahu aku di sini kerja. Kerja buat siapa ya buat kamulah. Buat masa depan kita. Kamu harus ngertiin sayang”

“Apa kurang lima tahun ini selalu ngertiin kamu? Aku selalu support kerjaaan kamu yang di Jakarta, di Melbourne atau di manapun itu yang kamu mau. Tapi apa pernah kamu ngertiin aku balik yang? Aku cuma butuh sosok kamu disini sebentar aja”

“Ya kamu sabarlah sayang. Kan aku bisa pulang setahun sekali.”

“Setahun sekali? Berkali-kali kamu ngomong gitu tapi nyatanya udah 2 tahunan ini kan kamu gak pulang ke Surabaya nemuin aku. Alasan kerjaan mulu ga ada hentinya”

Hampir setiap hari komunikasi kita seperti ini. Awalnya di mulai dengan obrolan mengenai pekerjaan dan pertanyaan-pertanyaan biasa tapi akhirnya selalu di akhiri oleh isakan tangisanku yang merindukannya kembali.

“Kamu kira aku juga gak pengen ketemu? Siapa sih yang gak kepengen ketemu pacarnya. Ya tapi keadaannya emang gini sayang. Dan aku masih belum bisa mastiin kapan aku pulang. Kamu tuh kenapa sih setiap hari nangiiis aja kerjaannya”

“Aku capek yang kita kayak gini terus”

“Sayang...Everything is gonna be alright. Don’t cry please... kita pasti ketemu kok suatu saat. Aku yakin kita berdua bisa ngejalanin semua ini. Kita harus yakin sayang”

 Setiap kali aku putus asa dengan hubungan ini berkali-kali Rendy selalu menyakinkan aku. Dan aku hanya bisa terdiam merasakan pilu kerinduan yang menyayat hati selama bertahun-tahun.

“Alright” aku hanya tersenyum kecil mengiyakan perkataan Rendy yang sudah susah payah menyakinkanu setiap aku ngajak berantem dan nangis.

 “Nah gitu donk sayang senyum. Itu baru Cintaku the real of my princess my love. Udah deh mendingan kamu sekarang belanja sama temen-temen kamu, besok kan ada acara nikahannya Kalia sahabat kamu. Aku dah tambahin saldo di ATM kamu check aja. Aku juga dah nyuruh supir pak Angga buat jemput kamu jalan-jalan ke Mall.”

“So sweet banget sih kamu yang pake ngirimin supir setiap aku mau hangout”

“Iya donk sayang. You know why, aku gak mau kalau sampai Cintaku ini kenapa-napa. Makanya biar aman aku suruh pak Angga buat anter kamu kemana-mana”

“Thanks sayang”  

~ ~ ~ BREAK ~ ~ ~

Akupun pergi ke Mall bersama kedua Sahabatku Alita dan Nora untuk menyiapkan kado pernikahan dan membeli gaun pesta ke acara pernikahan sahabat kami Kalia. Kadang aku merasa iri dengan Kalia salah satu sahabatku yang besok akan menerima pernyataan janji suci dari kekasihnya. Yang mana hubungan mereka baru aja pacaran 3 bulan, kenalan dari sosmed, pacaran terus nikah dengan segampang itu. Benar-benar tidak ada apa-apanya dengan hubunganku yang sudah berjalan 5 tahun tapi penuh dengan kerisauan kapan hari pernikahan itu akan tiba.

“Cint, kamu kenapa sih bengong aja dari tadi” tanya Alita dengan menyenggol sikuku. “Gapapa sih. Ya aku ngerasa iri aja gitu sama Kalia sahabat kita yang besok mau nikah. Pacaran ga usah lama-lama langsung nikah. sedangkan aku gimana sama Rendy... you know lah gaes” jawabku menggerutu.

“Yaelah Cint.. namanya jodoh.... kisah cinta orang juga beda-bed. Ada yang baru pacaran dah nikah. Ada yang kayak kamu dah bertahun tahun pacaran tapi belum ada kepastian buat nikah. Dan ada juga yang yang kayak aku dah terlanjur sayang-sayangnya eh dianya pergi gitu aja ghosting.” Kata Alita

“Lagian napa sih kalean pada... udah kayak kredit motor aja hubungan pake LDR 5 tahun ga ada kepastian tuh Cinta ...ibarat cicilian aja dah lunas eh kamunya masih nunggak. Ini juga Alita dah tau si Rio playboy gitu masih ada dipacarin. Sekarang dia ghosting ngilang tiba-tiba baru tau rasa kan. Mungkin aja tuh Rio dah gebet cewek lain. “ kata Nora yang gak mau tentang peliknya kisah cintaku dan Alita. Nora adalah sahabatku yang betah sekali ngejomblo 3 tahunan ini. Terahir pacaran, eh pacarnya Nora selingkuh sama adek sepupunya sendiri. Mungkin itu yang ngebuat Nora masih trauma menjalin hubungan lagi. “Ini juga aku lagi usaha move on” jelas Nora. “Kalau aku ya gimana lagi. Emang keadaannya gini” sahutku. Kita bertiga pun lanjut jalan ke arah salah satu cafe di dalam Mall untuk membeli minuman.

“Cint..kamu kenapa? Sedih gitu.. kenapa? Bukannya selama ini kamu baik baik aja ya sama Rendy?” tanya Alita. “Aku ngerasa semakin kesini semakin gak jelas arah kita kemana. Dah lama ngerencanain pernikahan, tapi dia nggak ngelamar-lamar aku bahkan inisiatif kek beli cincin buat aku.” Curhatku kepada Alita dan Nora. “Ya mungkin karena Rendy pengen nyiapin surprise kali Cint buat kamu. Minggu depan kan ulang tahun kamu. Ya siapa tau aja dia dateng trus ngelamar kamu.” Kata Nora. “Aku mulai ragu sih aku pengen udahan mutusin dia” kataku. “Cint.. please deh.. Rendy itu kurang apa sih ya mungkin dia ga bisa nemenin kamu saat ini tapi dia tuh dah baik, keren, cakep, pinter pula, dia tuh sayang banget ke kamu Cint...so sweet pula suka ngasih kamu surprise. Bodoh banget kamu kalo sampe ngelepasin cowok sebaik Rendy” Jelas Nora. “Aku nggak kuat gaes aku capek mau sampe kapan aku sama Rendy trus seperti aku ingin hidup normal seperti pasangan-pasangan yang lain yang selalu ada satu sama lain menemani. Nggak kayak aku yang kesepian. Punya pacar seakan nggak punya.” Aku pun meneteskan air mata. “Udah Cint... udah..jangan nangis. Aku tahu kamu nggak nyaman kan dengan keadaan ini. Terkadang nggak semua orang bisa ngejalanin hubungan LDR dengan mulus pasti ada kendalanya. Kamu harus tegar harus kuat” kata Alita sambil memelukku. “Keep strong ya Cint, kita cuma bisa support kamu” Nora pun juga memelukku. Beruntung aku mempunya dua sahabat baik yang selalu bisa nenangin aku setiap aku merasakan kegelisahan tentang hubunganku dengan Rendy. Aku merasakan ponselku bergetar di sakuku.ternyata mama yang menelfon. Akupun mengangkatnya “Ya, halo ma?” “Halo Cinta. Kamu dah selesai shopping sama temen-temen kamu? Cepet pulang ya penting!” “Emang kenapa ma?” “Udah.. nanti saja mama jelasin. Kali ini adek kamu sudah keterlaluan!” tutt...tuuut... tuuut.. tiba-tiba mama menutup telfonnya. “Gaes aku pulang dulu ya ada masalah nih sama adekku” kataku pada Nora dan Alita. “Hah? Kenapa lagi?? Bukannya kemaren adek kamu Siska abis ketangkep polisi ya gegara tawuran yang sama pacarnya itukan” kata Nora kaget. Akupun menggelengkan kepala. “Yadah Cint hati-hati ya”

~~BREAK~~

 

Dirumah...

BRAAK... tiba-tiba mama menggebrak meja didepannya. “Adek kamu Siska hamil sama pacarnya. Mau ditaruh mana muka mama ini. Satu-satunya jalan keluar biar Siska tidak ketahuan hamil di luar nikah adalah menikahkannya dengan Doni pacarnya” kata mama dengan wajah yang memerah mengungkapkan amarahnya. “Siska baru aja lulu SMA ma, masak dia langsung nikah gitu aja. Tapi gimana lagi yadah nikahin aja” kataku pasrah mengiyakan maksut mama. “Terus Rendy kapan jadi ngelamar kamu? kapan nikahin kamu? gak mungkin donk mama nikahin Siska dulu. Apa kata orang adeknya dah nikah duluan sedangkan kakaknya belum” jelas mama. Aku sudah menduga mama akan membahasa hubunganku dengan Rendy. Ya tuhan cobaan macam apa ini. Di saat aku ingin mengatakan putus ke Rendy mama malah menyuruhku untuk segera menikah dengan Rendy guna menutupi aib adikku. “Ma... kan mama tau sendiri Rendy sekarang masih di Australia. Dia lagi sibuk ma sama kerjaannya. Gak mungkin bisa ngelamar aku secepat ini dateng aja belum bisa apalagi buat tunangan” kataku ke mama. “Kemaren kemaren kamu juga bilang gitu ke mama. Mau sampai kapan? Kalau sampe perut adik kamu sudah buncit dan kamu belum tunangan juga sama Rendy terpaksa mama akan menikahkan kamu dengan Rio anaknya temen mama, bu Santika” kata mama dengan menaikkan intonasi ucapannya pertanda amarah. “Ma... gak bisa gitu donk ma.. Cinta gak cinta sama Rio.. Cinta maunya sama Rendy ma...mama Cinta dah 5 tahun pacaran sama Rendy.. please ma.. Cinta gapapa kok kalo Siska ngeduluin Cinta buat nikah duluan” pintaku merengek pada mama. “Cinta... kita hidup di jawa nak.. dalam adat jawa kalau adek nikah duluan ngeduluin kakaknya itu pamali. Keluarga kita akan bernasib sial. Dan adik kamu tidak akan bahagia rumah tangganya, mama mau nelfon Rendy sekarang biar mama yang bicara” kata mama. Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa ketika mama bicara mengenai adat jawa. Dalam keluargaku memang dari dulu selalu memegang teguh prinsip adat dan tradisi jawa kental alias kejawen. Jika aku melarang atau membantahnya, maka siap-siap aku akan dikucilkan dan dibantai habis-habisan oleh keluarga besarku ini. Apalagi almarhum papa adalah keturunan dari bangsawan kerajaan tanah jawa. “Mama sudah menelfon Rendy dan menceritakan semuanya. Dan Rendy setuju kalau minggu depan pas ulang tahun kamu dia sekalian tunangan sama kamu” kata mama lega. Aku yang mendengar kabar dari mama seakan tak percaya. Bagaiamana mungkin Rendy semudah itu mengesampingkan kerjaannya untuk melamarku. Yang mana selama ini kita selalu berantem gegra persoalan kapan ngelamar dan nikahin aku. “Really ma? Oh my god.. thank you mom.. okay aku bakal siapin vendor-vendor tunangan dari sekarang ma” kataku teharu sambil memeluk mama. “You’re welcome sayang” jawab mama. Sebenarnya aku bingung harus sedih atas musibah yang menimpa adikku atau bahagia karna impian untuk tunangan dan menikah dengan Rendy akhirnya akan segera terwujud setelah 5 tahun kita berpacaran LDR. Kulihat kamar adikku Siska sedang tertutup rapat terkunci dari dalam. Dia pasti sedih sekali, tapi kupikir nanti saja aku akan bicara menghibur adikku yang lagi sedih. Saat ini aku ingin memastikan Rendy apakah benar dia ingin melamarku di hari ulang tahunku minggu depan. Aku serasa tak percaya dan segera membuka laptop untuk videocall via skype dengan Rendy. “Halo sayang...ya, aku sudah tau semua cerita dari mama kamu sayang” “Terus yang dikatakan mama itu kamu beneran yang? Minggu depan pas ulang tahunku kamu bakal dateng ke Indo buat ngelamar aku? Kok tiba-tiba kamu berubah pikiran gitu apa jangan-jangan cuma karena adikku lagi hamil di luar nikah aja makanya kamu kesian dan mutusin buat ngelamar aku? Terus kerjaan kamu gimana? Gimana bisa kamu ninggalin?” “Sssst... Cintakuu bawelku.. kebiasaan deh kalo nanya gak bisa satu-satu. Biar aku jelasin ya satu-satu. Untuk kerjaan aku dah bisa handle pakai asisten aku sayang, jadi minggu depan aku bisa ambil cuti untuk ngelamar kamu. ya aku minta maaf sayang kemaren-kemaren aku selalu berantem sama kamu setiap kita bahas tentang tunangan dan pernikahan kita. Tapi you know what? Tuhan mengabulkan doa kita untuk menyatukam kita sayang” “What? Seriously? Aku ga mimpi kan sayang? Minggu depan kamu bakal kesini buat tunangan?” “Yes, I am serious. Will you marry me Cinta?” “Ofcourse yes I will sayang” entah perasaanku yang terhingga betapa senangnya ketika impian selama ini yang aku inginkan untuk hidup bersatu dengan Rendy kekasihku terwujud. “Yadah sayang.. kalau gitu aku mau nyiapin semuanya ya sayang aku mau hubungin event organizer buat acara ulang tahunku sekaligus engagement kita. Yeaaayyy!!!” “Okay sayang.. aku juga udah hubungin Alita sama Nora buat bantu-bantu kamu kok sayang, ada pak Angga juga buat nganterin kalian nyiapin semuanya. Yadah aku tutup videocallnya dulu ya sayang mau meeting nih” “Okay sayang thanks.... I love you” “I love you too” aku tak menyangka waktu itu akan tiba. Bagaikan bintang di langit kebahagiaanku ini tak terhitung bahagianya saat ini.

~~~BREAK~~

Saat ulang tahunku..

Akhirnya setelah sekian lama 5 tahun aku menanti waktu ini tiba juga untuk tunangan. Aku sungguh tak menyangka. Kuhias diriku secantik mungkin didepan cermin hanya untuk kekasihku seorang, Rendy. Tiada hal lebih indah dari ini serasa mimpi. Jika memang aku bermimpi beneran, aku tak mau bangun untuk hal yang paling indah dalam hidupku. “Cinta.. dah siap nak? Tamu-tamu sama temen-temen kamu dah banyak yang dateng nih. Rendy dah sampe airport kan? Kok lama banget ya belum dateng juga” tanya mama. “Sabar ma.. mungkin lagi perjalanan sama keluarganya buat kesini ma.. tapi handphonenya gak aktif sih apa lupa gak ngidupin kali ya lagi buru-buru. Aku sih dah siap ma” “Ya udah mama tunggu di depan ya, nanti kamu nyusul” “Okay ma”

~~BREAK~~

2 jam kemudian..

“Masih gak bisa dihubungin si Rendy?” tanya Alita. “Duuh bandara kerumahnya berapa menit sih.. trus kok gak nyampe-nyampe kesini? Kita mulai aja yuk acaranya. Kasian temen-temen sama para tamu dah nunggu lama. Mungkin acara tunangannya bisa dipending dulu” kata Nora memberiku saran. “Nggak ada yang nyambung gaes telfonnya” ucapku. Aku pun yang dari tadi menghubungi Rendy dan keluarganya satupun tidak tersambungkan. Aku mulai gelisah cemas tanganku dingin sedingin es khawarir jika tunangan ini akan gagal dilaksanakan. Lalu bagaimana dengan Siska adikku? Aku harus secepatnya bertunangan dan menikah dengan Rendy terlebih dahulu agar adikku bisa menikah juga sama pacarnya. Melihat perut adikku semakin hari semakin membesar akupun tak tega. Beruntung pacarnya Siska meski masih seusia pemuda berusia 3 SMA tapi keberaniannya untuk tanggung jawab dan jujur adalah hal yang patut diacungi jempol. Aku mulai menangis dan menitikkan air mata. Dan tak terasa detik demi detik sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam. Kini sudah hampir 3 jam tak ada kabar apapun dari Rendy. Aneh sekali tak seperti biasanya dia mematikan ponselnya selama berjam-jam seperti ini tanpa kabar. “Cinta.. mama mau bicara sama kamu..” mama membuka pintu dan datang menghampiriku didalam kamar. Alita dan Nora pergi keluar dari kamarku. “Cinta.. sudah berjam-jam Rendy tak ada kabar. Para tamu sudah menunggu terlalu lama. Mau sampe kapan nungguin? Mama sempet bilang kan kalau Rendy itu ga terlalu serius sama kamu. mendingan kamu sama Rio yang jelas-jelas bersedia nikahin kamu kapan aja. Dia cinta kamu dah lama banget sayang sejak kecil” “Maksut mama apa? Kan Cinta gak sayang sama Rio ma.. Cinta cintanya Cuma sama Rendy..” “Mama paham sayang. Paham sekali. Tapi sekali lagi kamu harus mikirin perasaan adik kamu Siska. Perutnya sudah mulai membesar. Mama nggak mau kita menanggung aib apa kata orang-orang sayang? Mau gak mau harus terima lamarannya Rio. Rio udah nungguin di depan bersama para tamu dan temen-temen kamu. “Hah? Apa? Jadi Cinta harus tunangan sama Rio ma?” mama hanya mengangguk. Akupun menangis sejadi-jadinya. Hatiku tersayat luka menahan pedih kecewa karna Rendy yang sudah aku perjuangkan selama 5 tahun tak kunjung datang melamarku. Lemas sudah rasanya tubuh ini terpaksa harus menerima ini semua. Apakah ini takdirku ya tuhan? Aku mencintai Rendy. Kenapa harus Rio yang melamarku sedangkan aku sama sekali tidak punya perasaan ke Rio. “Sudah nak... hapus air matamu.. ayo kita kedepan..tamu sudah menunggu lama..” “Aku gak mau ma...” “Cinta... kalau kamu ga mau menuruti permintaan mama lebih baik mama mati daripada menanggung aib adik kamu” mama nekat mengambil pisau yang ada di meja kamarku di atas piring buah. “Ma... cukup ma.. cukup ma.. okay aku akan turutin permintaan mama untuk bertunangan dengan Rio”

Aku menghapus air mataku dan berusaha tegar menerima kenyataan pahit untuk menerima lelaki yang tidak aku cintai. Aku pun menghampiri ruang tamu melihat tamu-tamu sebagian berwajah ngantuk karna menunggu terlalu lama acara ini dimulai. Musik dan gemerlapan lampu pesta ulang tahun sekaligus tunangan dari tadi sudah dimainkan. Acara ulang tahun sudah berlangsung dengan lancar. Kini acara pertunanganku dengan Rio lah yang di mulai. Aku sungguh tak bisa merasakan apa-apa antara aku ini hidup atau mati. Jika ini mimpi kenapa mimpi yang indah tadi seketika menjadi mimpi buruk yang tak kuharapkan? Di hari ulang tahunku apakah ini hadiah yang aku inginkan? Tidak sama sekali tidak. Aku memandang raut muka Rio tersenyum dan menyematkan cincin pertunangan dijari manisku. Dan seketika itu aku membayangkan bahwa Rio adalah Rendy... aku membayangkan Rendy yang menyematkan cincin di jari manisku serta memeluk erat.. Rendy... aku rindu akan hangatnya pelukanmu. Entah sudah berapa purnama kita tidak berjumpa sehingga bayangannya selalu ada dalam pandanganku. Membuat halusinasiku semakin meningkat mengganggap bahwa Rio adalah Rendy. Ya tuhan.. jika Rendy memang bukan jodohku aku akan terima Rio sebagai penggantinya. Namun jika Rendy adalah jodohku maka pertemukanlah kami... sampai kapanpun bahkan sampai menutup mata aku akan tetap menunggu kedatangan Rendy.... tak peduli berapa tahun berapa abad lamanya... Jika Rendy adalah jodohku maka aku mau untuk menunngunya kapanpun itu. Tak terasa aku menitikkan air mata setelah tunangan itu terjadi. Serasa aku terjatuh jatuh sejatuh jatuhnya di dalam jurang pemisah antara aku dan Rendy. Aku hanya bisa memendam rindu ini sambil melihat rembulan yang mengambang di pantulan air kolam renangku. Persis seperti kisah cintaku yang mengambang dengannya. Entah tenggelam entah sirna aku tak tahu. Kini aku sudah bertunangan dengan sosok lelaki lain yang tidak aku cintai. Aku berusaha menerima takdir kisah cintaku. Namaku memang Cinta, tapi aku bahkan tidak berhak untuk hidup bersama orang yang aku cintai. Entahlah.. tapi aku yakin suatu saat tuhan mempunyai rencana yang baik di balik semua penderitaanku meski entah kapan aku menyadarinya. Aku memang merindukan seseorang yang aku cintai. Tapi jika orang itu tidak merindukanku setengah mati seperti aku merindukanya. Lalu untuk apa merindu? Untuk apa merindu jika akhirnya enggan bertemu. Dari kisah ini aku mengambil hikmah dari segalanya dan berusaha untuk ikhlas dan sabar. Dari kisah ini pula aku sadar bahwa terkadang manusia tidak bisa mengharapkan sebuah harapan kepada manusia lainnya. Apa yang kita harapkan kepada manusia tersebut tidak akan sepenuhnya sesuai dengan apa yang kita harapkan. 

~~~TAMAT~~