Kamis, 14 Januari 2021

 

ANAK BURUH GENDONG

                                                                                    Penulis : Chilyatus Sariroh

Sungguh beruntung sekali menjadi anak pintar.  Di mana-mana selalu dikelilingi banyak teman. Ada yang bertanya ini ada yang bertanya itu. Andy, si anak pintar itu sungguh membuat semua orang kagum padanya. Dia selalu mempunyai semua jawaban atas soal-soal pelajaran amupun pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan oleh teman-temannya. Bahkan ketika bu guru bertanya, Andy selalu bisa menjawabnya. Tak heran bahwa Andy menduduki peringkat pertama di kelas. Jauh sekali perbedaannya dengan diriku yang hanya memiliki nilai pas-pas ketika ujian kemarin. Oleh sebab itu aku merasa minder ketika dekat dengan Andy.

Pada saat di kantin, Andy duduk di bangku sebelahku. Akupun menjadi merasa minder. Belum apa-apa para penggemarnya sudah nyinyir duluan melihat Andy duduk sebangku denganku.Aku ingat kata bu Sandra yang menyuruhku menanyakan tentang pelajaran kepada Andy, bagaimana cara ia belajar sehingga nilainya selalu bagus. Aku pun memberanikan diri. “Hai Andy, denger-denger disemester ini kamu mendapat peringkat pertama lagi ya?” tanyaku. “Iya Risa. Bagaimana dengan kamu?” jawab Andy dengan melontarkan pertanyaan balik kepadaku. “Semerter ini.. ya gitu deh, nilaiku banyak yang down. Ya maklum aku emang gak sepintar kamu. belajar apa gak nilainya tetap rendah. Kamu belajar tambahan atau les dimana sih?” jawabku sambil menanyainya langsung perihal pertanyaan yang ingin ku tanyakan sedari tadi. “Aku belajar tambahan dimana dimana!” jawabnya. “Hah? Di mana-mana? Oh pantes kamu pasti sering manggil guru privat untuk ngelesin kamu ya.” Tannyaku. Aku sama sekali berfikir tidak heran sama Andy. Pantas saja dia mendapat peringkat di kelasnya. Karena ia lesnya di mana-mana. Aku lihat Andy juga tidak pernah bermain dengan teman-temannya. Mungkin saja karena ia sibuk belajar tambahan atau les. Andy pun hanya tersenyum padaku. “Boleh gak aku ikut les sama kamu?” tanyaku pada Andy karena aku juga ingin pintar seperti dia. “Kalau pelajaran tambahan aku setiap hari mendapatkannya Ris, tapi kalau les mana mungkin aku bisa les. Ibuku saja hanya seorang buruh gendong. Dan ayahku hanya seorang penyemir sepatu.” Jawab Andy. Aku tercengang mendengar perkataan Andy bahwa ia hanyalah seorang anak buruh gendong dan penyemir sepatu. “Lagipula biaya les kan mahal. Aku juga belajar dari Ayah dan Ibu, meski sudah tua tapi mereka tetap semangat bekerja. Mereka bahkan sempat mengikuti ujian paket C untuk melamar pekerjaan lain yang lebih baik.Aku bangga sama orang tuaku. Dari situlah aku belajar agak tidak malu ketika bertanya tentang pelajaran kepada guru atau bahkan kepada semua orang. Orang tuaku saja tidak malu bekerja meski cuma buruh dan penyemir sepatu. Harusnya aku begitu.” Jelas Andy.

Aku merasa speechless tidak bisa berkata apa-apa mendengar cerita Andy tentang keluarganya. Ternyata selama ini diriku salah paham mengira dia sudah les di tempat les mahal. Ternyata tidak sama sekali. Dan kini aku baru mengerti bahwa pelajaran tambahan apapun dapat ditemukan di mana saja. Tidak hanya dari sekolah tapi dari manapun, orang terdekat kita seperti orang tua kita, teman kita dan masyarakat lainnya. “kalau kamu mau kamu bisa main ke rumahku kita belajar bareng” kata Andy. “Boleh An, nanti sepulang sekolah ya aku main ke rumah kamu sekalian belajar bareng”

-break-

Ku lihat rumah Andy begitu sempit ayahnya mondar mandir membawa peralatan semir sepatu. Dan ibunya membereskan peralatan buruh gendongnya. Aku melihat sekeliling rumah Andy dan membuatku terenyuh. Dengan keadaan seperti dia masih bisa belajar dan mendapatkan peringkat di sekolah. Sungguh sangat mengagumkan.”Eh Risa, kamu sudah datang. sini silahkan masuk duduk sini. Bentar ya aku bantu ibuku dulu ke gang sebelah. Habis ini kita belajar”.kata Andy. Apa aku tidak salah dengar. Andy mau membantu ibunya untuk menjadi buruh gendong. Ya buruh gendong adalah pembawa barang bawaan di pasar dengan upah yang begitu pas-pasan. “Tunggu Andy, aku mau ikut. Boleh?” pintaku. “Tapi nanti kamu kotor semua, jalanan pasar di sebelah banyak debunya.”kata Andy. “Tidak apa-apa” jawabku. Aku pun mengikuti Andy dan ibunya berjalan ke pasar dekat rumahnya. Dan aku duduk di bawah pohon. Melihat Andy dan ibunya susah payah bekerja untuk makan sehari-hari dan untuk biaya sekolah Andy dan adiknya. Sungguh beruntung sekali nasibku mempunyai keluarga yang bekecukupan tanpa ada kendala. Namun mengapa dengan keadaanku yang serba kecukupan ini membuatku malas belajar? Sedangkan Andy dengan keadaan seperti itu dia bisa menjadi lebih dewasa bijaksana dan mampu mengembah amanah di sekolahnya mempertahankan peringkat yang ia peroleh. Aku pernah mendengar Andy hampir saja putus sekolah karna biaya SPPnya menunggak. Tapi syukurlah ia mendapat beasiswa sehingga ia tak jadi putus sekolah. Sungguh semiris itu hidupnya. “Huft, akhirnya selesai juga. Yuk balik kerumahku. Kita bahas pelajaran disekolah tadi” kata Andy. “kamu sama sekali gak capek And? Habis membantu ibumu bekerja terus masih mau lanjut belajar?” tanyaku. “Risa, kalau kita melakukan pekerjaan apapun dengan ikhlas kita pasti tidak akan merasa lelah.” Jawab Andy dengan bijak. Aku pun kembali ke rumah Andy dan belajar bersama membahas pelajaran di sekolah. Ia sangat tekun dan sangat rajin mencatat apa yang di sampaikan oleh guru di sekolah. Aku pun sangat malu karena aku jarang sekali mencatat apa yang di sampaikan guru di sekolah. Kini aku merasa termotivasi dengan kegigihan dan kebijakan Andy dalam belajar. Sungguh tak disangka anak serajin sepintar dan sebijak Andy memiliki kehidupan seperti ini yang serba kekurangan. Sungguh dari pelajaran ini semua, aku dapat mengambil hikmahnya bahwa kita harus bijaksana dalam mengahdapai segala hal di dalam hidup kita. Tak peduli apapun keadaan kita. Dimana pun kita berada kita harus mengambil suatu kebijakan dalam hidup kita. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Terus semangat pantang menyerah. Karena hanya kebijakan dan keikhlasanlah yang mampu membuat diri kita besar. Bukan besar secara fisik tapi besar hati nuraninya.  Andy secara tidak langsung sudah menyadarkanku akan banyak hal.  Bahwa hal yang terpenting adalah menerima dan ikhlas terhadap sesuatu yang ada pada diri kita. Mensyukuri nikmat tuhan serta mempertahankan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Seseorang juga tidak bisa di lihat dari luarnya saja. Kita tidak boleh menyimpulkan sesuatu yang belum pasti kita ketahui. Maka dari itu kita wajib berbaik sangka pada semua orang dan membuang prasangka buruk kepada orang sekitar kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar