ANAK BURUH GENDONG
Penulis : Chilyatus Sariroh
Sungguh beruntung sekali menjadi anak
pintar. Di mana-mana selalu dikelilingi
banyak teman. Ada yang bertanya ini ada yang bertanya itu. Andy, si anak pintar
itu sungguh membuat semua orang kagum padanya. Dia selalu mempunyai semua
jawaban atas soal-soal pelajaran amupun pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan
oleh teman-temannya. Bahkan ketika bu guru bertanya, Andy selalu bisa
menjawabnya. Tak heran bahwa Andy menduduki peringkat pertama di kelas. Jauh
sekali perbedaannya dengan diriku yang hanya memiliki nilai pas-pas ketika
ujian kemarin. Oleh sebab itu aku merasa minder ketika dekat dengan Andy.
Pada saat di kantin, Andy duduk di bangku
sebelahku. Akupun menjadi merasa minder. Belum apa-apa para penggemarnya sudah
nyinyir duluan melihat Andy duduk sebangku denganku.Aku ingat kata bu Sandra
yang menyuruhku menanyakan tentang pelajaran kepada Andy, bagaimana cara ia
belajar sehingga nilainya selalu bagus. Aku pun memberanikan diri. “Hai Andy,
denger-denger disemester ini kamu mendapat peringkat pertama lagi ya?” tanyaku.
“Iya Risa. Bagaimana dengan kamu?” jawab Andy dengan melontarkan pertanyaan
balik kepadaku. “Semerter ini.. ya gitu deh, nilaiku banyak yang down. Ya
maklum aku emang gak sepintar kamu. belajar apa gak nilainya tetap rendah. Kamu
belajar tambahan atau les dimana sih?” jawabku sambil menanyainya langsung
perihal pertanyaan yang ingin ku tanyakan sedari tadi. “Aku belajar tambahan
dimana dimana!” jawabnya. “Hah? Di mana-mana? Oh pantes kamu pasti sering
manggil guru privat untuk ngelesin kamu ya.” Tannyaku. Aku sama sekali berfikir
tidak heran sama Andy. Pantas saja dia mendapat peringkat di kelasnya. Karena
ia lesnya di mana-mana. Aku lihat Andy juga tidak pernah bermain dengan
teman-temannya. Mungkin saja karena ia sibuk belajar tambahan atau les. Andy
pun hanya tersenyum padaku. “Boleh gak aku ikut les sama kamu?” tanyaku pada
Andy karena aku juga ingin pintar seperti dia. “Kalau pelajaran tambahan aku
setiap hari mendapatkannya Ris, tapi kalau les mana mungkin aku bisa les. Ibuku
saja hanya seorang buruh gendong. Dan ayahku hanya seorang penyemir sepatu.”
Jawab Andy. Aku tercengang mendengar perkataan Andy bahwa ia hanyalah seorang
anak buruh gendong dan penyemir sepatu. “Lagipula biaya les kan mahal. Aku juga
belajar dari Ayah dan Ibu, meski sudah tua tapi mereka tetap semangat bekerja.
Mereka bahkan sempat mengikuti ujian paket C untuk melamar pekerjaan lain yang
lebih baik.Aku bangga sama orang tuaku. Dari situlah aku belajar agak tidak
malu ketika bertanya tentang pelajaran kepada guru atau bahkan kepada semua
orang. Orang tuaku saja tidak malu bekerja meski cuma buruh dan penyemir
sepatu. Harusnya aku begitu.” Jelas Andy.
Aku merasa speechless tidak bisa berkata
apa-apa mendengar cerita Andy tentang keluarganya. Ternyata selama ini diriku
salah paham mengira dia sudah les di tempat les mahal. Ternyata tidak sama
sekali. Dan kini aku baru mengerti bahwa pelajaran tambahan apapun dapat
ditemukan di mana saja. Tidak hanya dari sekolah tapi dari manapun, orang
terdekat kita seperti orang tua kita, teman kita dan masyarakat lainnya. “kalau
kamu mau kamu bisa main ke rumahku kita belajar bareng” kata Andy. “Boleh An,
nanti sepulang sekolah ya aku main ke rumah kamu sekalian belajar bareng”
-break-
Ku lihat rumah Andy begitu sempit ayahnya
mondar mandir membawa peralatan semir sepatu. Dan ibunya membereskan peralatan
buruh gendongnya. Aku melihat sekeliling rumah Andy dan membuatku terenyuh.
Dengan keadaan seperti dia masih bisa belajar dan mendapatkan peringkat di
sekolah. Sungguh sangat mengagumkan.”Eh Risa, kamu sudah datang. sini silahkan
masuk duduk sini. Bentar ya aku bantu ibuku dulu ke gang sebelah. Habis ini
kita belajar”.kata Andy. Apa aku tidak salah dengar. Andy mau membantu ibunya
untuk menjadi buruh gendong. Ya buruh gendong adalah pembawa barang bawaan di
pasar dengan upah yang begitu pas-pasan. “Tunggu Andy, aku mau ikut. Boleh?”
pintaku. “Tapi nanti kamu kotor semua, jalanan pasar di sebelah banyak
debunya.”kata Andy. “Tidak apa-apa” jawabku. Aku pun mengikuti Andy dan ibunya
berjalan ke pasar dekat rumahnya. Dan aku duduk di bawah pohon. Melihat Andy
dan ibunya susah payah bekerja untuk makan sehari-hari dan untuk biaya sekolah
Andy dan adiknya. Sungguh beruntung sekali nasibku mempunyai keluarga yang
bekecukupan tanpa ada kendala. Namun mengapa dengan keadaanku yang serba
kecukupan ini membuatku malas belajar? Sedangkan Andy dengan keadaan seperti
itu dia bisa menjadi lebih dewasa bijaksana dan mampu mengembah amanah di
sekolahnya mempertahankan peringkat yang ia peroleh. Aku pernah mendengar Andy
hampir saja putus sekolah karna biaya SPPnya menunggak. Tapi syukurlah ia
mendapat beasiswa sehingga ia tak jadi putus sekolah. Sungguh semiris itu
hidupnya. “Huft, akhirnya selesai juga. Yuk balik kerumahku. Kita bahas
pelajaran disekolah tadi” kata Andy. “kamu sama sekali gak capek And? Habis
membantu ibumu bekerja terus masih mau lanjut belajar?” tanyaku. “Risa, kalau
kita melakukan pekerjaan apapun dengan ikhlas kita pasti tidak akan merasa
lelah.” Jawab Andy dengan bijak. Aku pun kembali ke rumah Andy dan belajar
bersama membahas pelajaran di sekolah. Ia sangat tekun dan sangat rajin
mencatat apa yang di sampaikan oleh guru di sekolah. Aku pun sangat malu karena
aku jarang sekali mencatat apa yang di sampaikan guru di sekolah. Kini aku merasa
termotivasi dengan kegigihan dan kebijakan Andy dalam belajar. Sungguh tak
disangka anak serajin sepintar dan sebijak Andy memiliki kehidupan seperti ini
yang serba kekurangan. Sungguh dari pelajaran ini semua, aku dapat mengambil
hikmahnya bahwa kita harus bijaksana dalam mengahdapai segala hal di dalam
hidup kita. Tak peduli apapun keadaan kita. Dimana pun kita berada kita harus
mengambil suatu kebijakan dalam hidup kita. Jangan menyia-nyiakan kesempatan
yang ada. Terus semangat pantang menyerah. Karena hanya kebijakan dan
keikhlasanlah yang mampu membuat diri kita besar. Bukan besar secara fisik tapi
besar hati nuraninya. Andy secara tidak
langsung sudah menyadarkanku akan banyak hal.
Bahwa hal yang terpenting adalah menerima dan ikhlas terhadap sesuatu
yang ada pada diri kita. Mensyukuri nikmat tuhan serta mempertahankan apa yang
terbaik yang bisa kita lakukan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
Seseorang juga tidak bisa di lihat dari luarnya saja. Kita tidak boleh
menyimpulkan sesuatu yang belum pasti kita ketahui. Maka dari itu kita wajib
berbaik sangka pada semua orang dan membuang prasangka buruk kepada orang
sekitar kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar